Rambut pendekSetelah berkali-kali gagal memotongnya, akhirnya rambutku dipotong juga. Sabtu lalu (22/11), ketika mau pulang setelah jalan-jalan di Plasa Andalas (PA), acara “membabat habis keriting sexyku” terlaksana juga.

Ketika itu aku, bunda dan ayah melewati counter The Guh Widjaja Salon yang berada di lantai III.  Sebenarnya sudah dua kali singgah ke sana, tapi begitu mau masuk ada saja halangan. Pertama mereka mau tutup. Kedua aku yang menolak untuk dipotong. Tapi entah kenapa pada Sabtu lalu itu, aku kepengen banget potong rambut.

Awalnya secara berseloroh bunda bilang, “Sya.. jadi mau ke salon?”

Rambut-pendek2“Iya Nda.., Sya mau potong rambut,” jawabku. Tak tahu kenapa bisa langsung terucap sepertiku.

Tanpa pemaksaan, aku digiring ke salon itu. Seorang cutter dengan sigap melayani diriku. Modelnya? Kata mbak itu bagusnya model bop (kayak nama Oom-oom aja yakkk), dan bunda menyerahkan sepenuhnya kepada si mbak untuk mempreteli rambut keriting kerenku itu. Dan aku, hanya bisa menunduk saat si mbak mulai memainkan guntingnya. Maklumlah, selama ini Sya jarang (tak pernah malah) ke salon. Paling kalo cukuran dulu hanya sebatas buah tangan bunda, yang sempat membotakin diriku ketika masih berumur setengah tahun dahulu kala.

Rambut-pendek1Tak cukup satu jam, aku sudah bersalin rupa. Rambut keriting yang bergulung dan tergerai yang hampir menyentuh pinggang itu, sudah hilang tergantikan rambut nge-bop sepanjang tengkuk. Pangling? Ayah cuma tertawa, bunda tersenyum simpul.

Lantas mengapa rambutku harus dipotong? Persoalannya sederhana, tapi fatal akibatnya. Setiap keramas, air selalu masuk ke telingaku melalui perantaraan gerai rambut keritingku. Acapkali air itu mendatangkan alergi di telinga sehingga aku harus beberapa kali bolak-balik ke dokter spesialis THT. Makanya untuk memutus mata rantai tersebut, aku disarankan potong rambut saja. Dan jadilah seperti sekarang ini. Tetap cantik kan? (***)