Hikingsya2INI asli seru… benar-benar seru dan sangat seru. Untuk kali pertamanya aku diajak Ayah pergi hiking. Bukan hiking sembarang hiking, tapi benar-benaran hiking yang kata Ayah bisa disebut tracking. Walhasil aku nyaris K.O lantaran “ngantuk” tak sanggup mendaki di jalanan terjal yang begitu panjang dan melelahkan.

Sebenarnya aku tak tahu bakal diajak kemana oleh Ayah. Yang jelas, Minggu pagi, pagi-pagi sekali aku sudah dibangunkan, disuruh mandi, minum susu, dan pakai baju cantik. Tak kirain mau diantar ke sekolah, karena rutinitas yang sama aku jalani tiap pagi.

“Sya sekolah Yah?” begitu tanyaku ke Ayah. “Bukan,” kata Bunda, “Sya ikut Ayah aja jalan-jalan, Bunda yang pergi ke sekolah,” tambah Bunda.

Beberes selese, aku dan Ayah mengantar Bunda dulu ke sekolah, karena beliau akan mempersiapkan pawai alegoris. Dari sekolah Bunda, barulah aku diajak Ayah ke pantai. Ngapain?

Hikingsya3Ternyata di situ sudah banyak Om-om dan Tante-tante teman-teman Ayah. Yang jelas sampai di situ, aku tetap belum tahu mau diajak ke mana. Yang pasti kemana Ayah pergi, aku harus ikut. Cukup lama juga bengong di Taplau (Tapi Lauik), digoda teman-teman Ayah yang jahil gangguin Sya. Tahu begitu, aku pasang tampang lugu, malu-malu, lalu laju-laju, hehehehe, Sya gitu lhooo…

Satu jam lebih menunggu, barulah Sya diajak jalan. Kebetulan ada Dzaky anaknya Om Ephi yang sebaya denganku, sehingga aku tak mono menyandang titel sebagai peserta junior. Bayangin, aku kan masih 3,3 tahun dan Dzaky sudah 3,7 tahun, yang lainnya udah pada bangkotan… hehehe.

Hikingsya1Berjalan dari Taplau ke Jembatan Siti Nurbaya, aku senang-senang saja. Wong rutenya mendatar dan banyak yang bisa dilihat. Ada air, ada mobil, ada motor, ada orang dan banyak lagi yang bisa dipandang. Dan yang bikin aku histeris ketika pesawat lewat…

“Ayah… cawat, Yah…,” tunjuk ke arah langit yang sedikit mendung.

Memasuki kawasan Seberang Padang dan mulai mendaki melewati kawasan perkuburan China, aku mulai kelelahan. Berkali-kali harus minum, dan karena tak tahan lagi, aku minta gendong ke Ayah.

“Yah…, Sya ngantukkk…,” kataku.
“Hah? Ngantuk apa capek?” tanya Ayah atas kosakataku yang lumayan aneh itu.
“Ngantuk… Yahhhhh…” tegasku.

HikingsyaRela tak rela, ayah kudu menggendongku juga. Jadilah Ayahku seperti petualang yang tak hanya menyandang daypack, tapi juga menggendong aku anak semata wayangnya yang cantik dan doyan bikin Ayah kesel ini. Kasihan deh Ayah…

Ternyata jalan berliku dan panjang mendaki itu, belum berakhir sampai di situ. Kali ini jalan yang harus dilewati menurun tajam, berbelok, dan ada jurangnya juga. Ayah bilang, jalan setapak itu mengingatkan dirinya masih aktif ke luar masuk rimba bersama anak-anak Mapala. Cukup lama juga perjalanannya, hingga akhirnya kami sampai di Pantai Aia Manih.

Secara aku yang paling doyan bermain air, melihat ombak dan lautan yang terpapar begitu, aku langsung memaksa Ayah untuk mengizinkan aku bermain ombak. Tapi oleh Ayah dilarang, karena masih ada acara makan-makan dulu, ngumpul-ngumpul sama Om dan Tante yang ikutan hiking… Gak sabar deh.

Hikingsya4Setelah perutku kenyang habis melahap nasi rantangan yang disiapkan Bunda sebelum pergi, dan acara serius santai rombongan Palanta selesai, aku baru bisa bermain ombak.. Hanya berpakaian dalam, aku berlari ke sana-kemari yang tentu saja bikin repot Ayah… EGP…

Sayangnya hari kian sore, dan saatnya untuk pulang. Dalam perjalanan pulang hujan panas menerjang. Hasilnya malam hari aku langsung diserang demam. Tapi gpp, karena usai minum paracetamol, panas badanku langsung turun. (***)